Senin, 04 Juni 2012

Mesjid Agung Palembang dan Komunikasi Syiar Islam Bagi Masyarakat

Volume. 2, No. 3, Juni 2009 ISSN: 1979– 0899X

Mesjid Agung Palembang dan Komunikasi Syiar Islam Bagi Masyarakat
Oleh: Isnawijayani 
Abstract
This research aims to know the relationship between Palembang great mosque and Islam propagation communication for community. The hypothesis is the function of Palembang great mosque (x) and Islam communication (y). The population of research is 55 board members of Palembang great mosque. The research uses full sampling technique. The result shows that 99 % Palembang great mosque has strong relationship to Islam propagation communication for community. The determination coefficient is 0,98, it means that Islam propagation communication is 98 determined by function of great mosque as place of worship. We can say that the function of great mosque as place of worship is influenced by 98 % Islam propagation communication and 2 % other factors such as personal communication done by the board.
Keywords : Mosque, place of worship, Islam propagation communication
Pendahuluan
Antara abad ke-7 sampai abad ke-10 kerajaan Sriwijaya meluaskan kekuasaannya ke daerah Semenanjung Malaka sampai Kedah dalam rangka penguasaan Selat Malaka yang merupakan kunci bagi pelayaran dan perdagangan Internasional. Kedatangan orang-orang Muslim ke daerah itu sama sekali belum memperlihatkan dampak-dampak politik, karena mereka datang memang untuk usaha pelayaran dan berniaga. Keterlibatan orang-orang Islam dalam politik baru terlihat pada abad ke-9 M. Ketika mereka terlibat dalam pemberontakan petani-petani Cina terhadap kekuasaan T’ang pada masa pemerintahan Kaisar Hi-Tsung (878-889).
Akibat pemberontakan itu, kaum muslimin banyak yang dibunuh, sebagian lainnya lari ke Kedah dan Palembang yang berada dalam wilayah Kerajaan Sriwijaya dan mereka membuat perkampungan Muslim. Kerajaan Sriwijaya pada waktu itu memang melindungi orang-orang Muslim di wilayah kekuasaannya karena kepentingan ekonomi.
Kehadiran pedagang-pedagang Muslim di wilayah kekuasaan Sriwijaya ini sangat berpengaruh terhadap kehidupan penduduk setempat, karena ajaran-ajaran Islam yang dibawa dan diajarkan oleh pedagang asing mudah menyatu dan dapat diterima masyarakat setempat disebabkan ajaran ini tampil sangat terbuka dan penuh toleransi serta mengajak pengikutnya berpikir dan berbuat rasional. Secara tidak langsung Agama Islam mulai berkembang, baik karena terjadinya hubungan perniagaan juga ada yang melalui hubungan perkawinan. Akibatnya terjadi akulturasi dan transformasi budaya yang cukup signifikan antara Islam dan budaya setempat, seperti adat istiadat, sikap, perilaku dan pola hubungan masyarakat.
Berdasarkan hasil Seminar Masuk dan Berkembangnya Islam di Sumatera Selatan pada tanggal 29 Nopember 1984 yang diselenggarakan oleh Majelis Ulama Indonesia Tingkat I Sumatera Selatan di Palembang.(Hanfiah: 1985), disimpulkan sbb: sumber-sumber sejarah

 Doktor Ilmu Komunikasi; Dosen PNSD Kopertis Wilayah II DPK di Prodi Ilmu Komunikasi FISIP UNBARA

more in pdf

Tidak ada komentar:

Posting Komentar